Friday, October 09, 2009

sebuah catatan untuk perdamaian di bumi Kalimantan Barat

....sementara mereka teriak damai..damai, orangpun pada bertanya perdamaian yang macam mana sih yang luh pada mau? Apa sebatas perang di Vietnam yang baru berlalu, atau sebatas rujuknya John sama Paul, John sama Joko. Kalau esok matahari terbit di timur...yeaahh nenek juga tahu. Masih bisakah kita berharap DAMAILAH DI BUMI...Tergantung pesanan bos!......(PSP)

Wednesday, September 02, 2009

lelaki di ujung mimpiku

Hi lelaki di ujung mimpiku!
Melihat kau terbaring dengan mata terpejam
Seindah nyanyian riak riam di sudut surga dalam belantara kita
Dan tenang yang menyeruak hati takkala pandangan jatuh ke wajahmu
Membuatku terdiam dan mengembang senyum
Tidurlah lelakiku! Biar kunikmati damai memandang dan merasa hadirmu dalam kata.

Wednesday, July 01, 2009

perempuan yang memutih rambutnya


Kawan,
pernahkah kuceritakan kepadamu tentang seorang perempuan yang memanggul dunia di bahunya. Serasa tidak cukup beban itu buatnya, masih disisihkan tempat sedikit di pundak kirinya untuk berbagi airmata buat perempuan lain di seberang lautan sana. Sedikit tempat untuk kekuatiran dan ukiran doa.

Kawan,
pernahkah kuceritakan kepadamu tentang seorang perempuan yang menaruh kuatir dunia di kepalanya yang teramat kecil dan sarat. Namun, masih terselip ruang kecil, untuk berbagi sapa dan sedih bersama orang-orang disekililingnya.

Kawan,
pernahkah kuceritakan kepadamu tentang seorang perempuan yang telah memutih rambutnya, membesarkan tahun demi tahun anak-anaknya yang tidak beranjak dewasa. Masih tersisa hitam untuk beberapa tahun mungkin puluh tahun lagi ungkapnya untuk peran itu.

Kawan,
pernahkah kusampaikan kepadamu tentang tanyaku, kapan perempuan itu akan merasa cukup dengan beban dan kuatir, dari mana datang semua kekuatan dan ketulusan itu. Atau telah kusampaikan takutku kah, jika suatu saat nanti dia pergi dalam ketidaksiapanku.

Kawan,
pernahkah kuteriakkan kepadamu, betapa ingin ku pinta putih rambut itu, yang berisi kuatir dan bebannya akan dunia, yang menanda detik waktu tersisa.

Wednesday, April 22, 2009

friend in need is friend indeed

Is so nice to have friend on your side, no matter how small or useless is it the thing was. I knew, it's my fault (very small part of it thought), very simple one indeed, I can just ignore it if I want too. But, there you are, stand on my side, help me to fix it, did thing that neither both of us intends too, just because other 'good will' that ended out from what they plan off before. It's suck, but it sweet to have it through and found how good was a friendship. Love you my friend.

Sunday, April 05, 2009

I Will Be There

I will be there...
Days passed bring it closer to me
Never this strong
Never this sure

I will be there...
next year
With all the unsure
With all the gloom air
With all the smug feel
With all the light night
With all the color skins
With all the walk steps
With all the dreams
With all the smiles

I will be there next year!

Friday, April 03, 2009

Dalam satu permainan

Satu menantang, satu emosi
Satu bersikeras, satu tidak peduli
Satu menjawab, tidak menerima
Satu menghabiskan energi, sesaat mengeluarkan amarah,
atau menutup telinga, melewatkan
Satu terdiam, meresap, dan memutuskan tidak membiarkan
tantangan tidak terjawab, dorongan tidak berhirau,
jawaban tidak bertanggap,

Dalam satu permainan dua jam
Cuplikan sehari-hari terekam
Pilihan dibuat
menyalurkan energi untuk
menjadi penantang, tidak peduli, tidak menerima,
marah, menutup telinga atau meresap dan menjawab
Sapere Aude?

Tuesday, March 03, 2009

lihatlah

lagi, lihatlah
mereka yang datang ke ibu kota
dalam usia teramat dini
mengenal keras hidup

terbaring, berbaring
di lantai stasiun kereta
dalam usia teramat dini
mengenal dingin dalam sengat malam

a rural poor become an urban poor
and in the process their become invisible
by you
by me
by us

lalui mereka
kadang langkahi mereka
alihkan mata
palingkan kepala

their become invisible

-------------------------------------------
ada sentakan rasa setiap aku menjabangi ibu kota
tentang hidup dan perjuangan
tentang kemiskinan dan anak-anak itu
di perempatan
di kolong jembatan
di pinggir jalanan
di stasiun kereta
hanya di ibu kota
semuanya menjadi tragis
semuanya menjadi miris
semuanya menjadi penuh sentakan rasa
tentang kita
yang berlalu
lalang menjadi buta
dan mereka
yang menjadi tidak terlihat

Tuesday, February 24, 2009

dalam lelah

engkau yang merangkai keluh dalam sendiri
mencari dalam keruh
akankah diam menjadi jawab
buat seruat gelisah

engkau yang menaruh gantung pada kelabu
tetes air dalam kantong
dapatkah dibaca oleh dia
yang engkau cari tanpa nama dan bentuk

Monday, January 12, 2009

perempuan malam

Kembali matahari menapaki belahan bumi lain, mempersilahkan kerlip bintang menghias malam di bagian kota ini. Sedikit dingin mengigit kulitnya, tidak seperti malam-malam sebelumnya yang menyisahkan gerah di kulit, malam ini terasa teramat dingin setelah hujan turun sesiangan.

Dia harus tetap bekerja, keluar dari rumah, yang satu ini lebih pantas disebut gubuk, lubang di dinding, atap rumbia, dari selah-selah lantai kayunya terasa angin yang mengantar dingin malam, tapi masih terasa hangat dibandingkan di luar sana. Dia perempuan malam, bekerja hingga subuh datang, pulang ke rumah, tidur dalam satu saat yang teramat singkat untuk bangun dan menyiapkan makan buat anak dan suaminya.

Disiapkannya pakaian untuk malam ini, akan dikenakan setelah menidurkan si bungsu di balik kelambu penuh tisikan. Si sulung akan ikut malam ini, disiapkan satu potong pakaian kerja yang lain untuknya.

Keluar rumah berdua, masing-masing membawa satu karung bekas beras. Tempat sampah di tepian sungai Jawi itu tujuannya. Diseret langkah si sulung, bisa celaka kalau terlambat, tidak akan ada yang tersisa nanti, dikais habis oleh yang datang duluan.

Dia perempuan malam, yang mengais harta dari sisa pesta kita.

Monday, December 15, 2008

Satu cerita dari tepi pantai Sukadana

Terletak dekat pantai Sukadana, dengan latar belakang bukit-bukit dan sejuk pepohonan,ASRI, Alam Sehat dan Lestari hadir. Klinik kesehatan ini digawaii oleh beberapa relawan dari Paman Sam, dengan dibantu oleh orang-orang lokal mereka memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, selain beberapa program lingkungan yang dijalankan. Berbicara soal penyelamatan hutan dan kelestarian alam tidaklah cukup dengan kampanye dan pendidikan, perlu menyentuh kebutuhan masyarakat lokal, salah satunya pemberian pelayanan kesehatan, kata mereka. Bagi tempat yang sulit dijangkau, di mana akses pendidikan dan kesehatan tidak memadai, ASRI merupakan salah satu pilihan alternatif.


Kunjungan yang sebentar ini tidak memberikan waktu yang cukup untuk mengetahui lebih banyak. Satu hal lagi yang membedakan ASRI dengan program lainnya, mereka menerapkan pembayaran yang boleh tidak tunai bagi masyarakat yang menggunakan fasilitas kesehatan di klinik. Bentuknya, bisa dengan bibit tanaman, pupuk kandang/kompos, kerajinan tangan seperti tikar pandan atau keranjang, ternak seperti ayam, kambing, sapi, babi, kotoran ternak, tanah bakar, atau bahkan masyarakat yang tidak memiliki hal-hal di atas, dapat membayar dengan bekerja di klinik atau kebun selama ½ hari atau lebih dengan bayaran Rp. 50.000/hari (upah tidak dapat diuangkan, hanya untuk pembayaran penggunaan layanan kesehatan). Bentuk perkerjaan di klinik berupa mencuci seprei kotor, baju, alat-alat di klinik, menyapu, mengepel, sampai membersihkan sampah-sampah yang ada. Sedangkan di kebun, mencangkul, menanam tanaman, menyiram, menyiangi rumput, memberi pupuk, dll. Besaran biaya yang harus dibayar juga dibedakan berdasarkan zonasi. Kampung-kampung yang terletak di daerah kritis atau zona dekat kawasan Taman Nasional Gunung Palung mendapatkan diskon yang paling besar, sehingga biaya yang harus mereka bayar lebih ringan.


Jangan bayangkan klinik ASRI seperti klinik kebanyakan dengan segala keterbatasan, sarana dan prasarana yang dimiliki sangat lengkap, pelayanan yang diberikan cukup professional, dokter dan perawat ahli mereka miliki. Untuk suatu tempat yang jauh dari antah beranta, tempat ini sangat bermanfaat bagi masyarakat lokal. Ada harapan besar agar program ini tetap eksis, berbagi dengan masyarakat lokal, berdaya dengan masyarakat lokal, tidak tenggelam hilang seperti kebanyakan program-program lainnya yang pernah dijalankan di pulau ini. Sejarah membuktikan selama ini banyak hadir program-program yang secara konsep sangat bagus, sangat idealis, namun kemudian tidak dapat berlanjut setelah periode program selesai. Hmm..bisa menjadi bahan penelitian nih, melihat aspek keberlanjutan program-program yang telah dikerjakan selama ini, terutama yang bersifat fisik, mengapa banyak yang hilang, apa hambatan dan tantangannya, di mana kekurangannya, bagaimana solusinya.

Sunday, November 02, 2008

White Lily


"Jupiter was the most powerful of the Greek mythological gods and ruled Mount Olympus. He was the god of the skies and the weather, and used thunderbolts to strike down his enemies.
Wishing to immortalise his infant son Hercules (born from his adulterous relationship with the mortal Alcmene), Jupiter held him to the breasts of the sleeping Juno - his wife and chief goddess on Olympus. The milk which spurted upwards formed the Milky Way, while some fell downwards and became lilies. Lilies were once present at the base of the painting, until a part of the original canvas was cut off."

I saw the original painting once with Lilies at the base of the painting at National Gallery London. I don't know why they cut off the base part of the painting. I'm always love white lily. The smell so nice, and its hold long. In many occasion, if I can find one, I will always have White Lilies to give, Oto san in Tokyo, Cynthia in Birmingham, Emak in Melaka, someone in between here and there :-)).


Friday, October 31, 2008

A Shoulder To Cry On - Tommy Page

Life is full of lots of up and downs,
And the distance feels further when you're headed for the ground,
And there is nothing more painful than to let you're feelings take you down,
It's so hard to know the way you feel inside,
When there's many thoughts and feelings that you hide,
But you might feel better if you let me walk with you
by your side,

And when you need a shoulder to cry on,
When you need a friend to rely on,
When the whole world is gone,
You won't be alone, cause I'll be there,
I'll be your shoulder to cry on,
I'll be there,
I'll be a friend to rely on,
When the whole world is gone,
you won't be alone, cause I'll be there.

All of the times when everything is wrong
And you're feeling like
There's no use going on
You can't give it up
I hope you work it out and carry on
Side by side,
With you till the end
I'll always be the one to firmly hold your hand
no matter what is said or done
our love will always continue on

Everyone needs a shoulder to cry on
everyone needs a friend to rely on
When the whole world is gone
you won't be alone cause I'll be there
I'll be your shoulder to cry on
I'll be there
I'll be the one you rely on
when the whole world's gone
you won't be alone
cause I'll be there!

And when the whole world is gone
You'll always have my shoulder to cry on....

Wednesday, October 08, 2008

Tirai Hujan

Tapak kaki berpulang ke barat
Di batas sungai langit tumpah
Menyusur tepian kala mentari lelah
Pemandangan terindah di kala senja itu
Berkasnya mewarna tirai hujan berona emas

Tuesday, June 10, 2008

Eusideroxylon zwageri

Aku tidak ingat sejak kapan, tapi sedari kecil kayu belian itu sudah ada. Kayu belian atau ulin itu milik bapakku. Seingatku, dulu kayu belian itu dipakai oleh bapakku sebagai jembatan kayu di samping rumah (rumah masa kecil di Gg. Rambai), tempat kami menjemur pakaian. Tanah di sana sangat rendah dan becek, sehingga diletakkan dua balok kayu belian yang cukup besar melintang sejauh tali jemuran di samping rumah. Kemudian di belakang rumah, sebelum pohon bacang, bapakku membuka kali kecil, airnya cukup jernih. Di kali itu ada tangga lebar yang dibuat dari keping-keping kayu belian juga.

Ketika kami pindah ke rumah kecil di depan rumah Om (masih di gang yang sama), kayu itu dibawa serta, dijadikan bagian belakang rumah kami, tempat cuci piring dan menaruh segala jenis barang-barang "bekas". Kayu yang sama kemudian mengikuti kami pindah ke jalan Apel, samping Gg. Pisang Raja, kemudian ke Jl. RE. Martadinata No. 7, terus sekarang ke Jl. Karet Komplek Didis Permai.

Ketika kecil sering telapak kakiku terkena suban dari kayu belian ini. Suban merupakan bagian kecil/duri dari potongan kulit yang menusuk dan tertinggal di dalam lapisan kulit. Sampai sekarang, kadang kala telapak kakiku masih terkena suban belian karena bagian belakang rumah kami yang berlantai belian.

Aku kagum dengan daya tahan kayu belian. Kata bapakku sejak abangku yang paling besar lahir, kayu itu sudah ada. Berarti umurnya sudah lebih dari 30an tahun. Semakin tua dan sering kena air semakin tahan kayu itu. Luar biasa.
Aku tiba-tiba ingin menulis tentang kayu belian setelah membaca kumpulan cerita "Hari-Hari Bersama Kera Merah" nya kang Edy. Salah satu cerita di buku itu tentang fungsi si kera merah ini dalam reproduksi tanaman. Dari penelitian kecil diketahui kalau biji-biji tumbuhan tertentu yang telah melalui proses pencernaan di dalam tubuh orangutan ini akan tumbuh lebih cepat. Disebutkan pula di kepulauan Mauritus, musnahnya burung dodo kemudian berdampak dengan hilangnya tumbuhan Calvalia major 100 tahun kemudian karena pertumbuhan tanaman ini memerlukan bantuan pencernaan burung tersebut.

Dalam beberapa kesempatan menjabangi hutan di Kalimantan, aku berusaha mencari pohon belian yang semakin menghilang dari belantara Kalimantan. Illegal logging, pembukaan lahan untuk pertanian, perkebunan dan pemukiman menjadi penyebabnya. Dalam kesempatan itu, aku menemukan buah belian yang tersebar jauh dari pohonnya. Buah itu biasanya tidak utuh lagi, kotor, penuh guratan-guratan bekas gigitan babi hutan.


Lapisan kulit luar buah belian sangatlah keras. Dari beberapa teman yang mencoba membudidayakan belian, sangat susah untuk menumbuhkan belian jika dibiarkan begitu saja. Harus diberi perlakukan khusus, diamplas kulit luarnya sampai tipis, dikikir atau dibelah/dibuka buahnya.
Menemukan buah belian penuh bekas gerusan membuatku berpikir, babi hutan mungkin berperan besar terhadap penyebaran dan perkembangbiakan pohon belian.

Sekarang alam sudah tidak seperti dulu lagi, pohon-pohon hilang, binatang-binatang habis, entah diburu atau mati kelaparan. Babi hutan diburu dan dibunuh. Sangat memungkinkan apa yang terjadi pada tumbuhan
Calvalia major akan terjadi pada Eusideroxylon zwageri (belian). Duh, jangan sampai deh. Pohon yang begitu berharga. Belum lagi multiple effect nya terhadap setiap bagian kehidupan yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan pohon ini di ekosistem besar bumi kita.

Monday, June 02, 2008

Age character calculation

I got email from a friend, an Age Character Calculation attached. So, think to give it a try, just for fun. I only need to enter my date of bird and traadaa:




OCTOBER



* Loves to chat



* Loves those who loves him



* Loves to takes things at the centre
Enter your DoB here => 22-Oct-84
* Attractive and suave

e.g. 1949/08/27
* Inner and physical beauty



* Does not lie or pretend



* Sympathetic



* Treats friends importantly



* Always making friends



* Easily hur! t but recovers easily



* Bad tempered



* Selfish



* Seldom helps unless asked
Age in years 23,61
* Daydreamer
Age in months 283
* Very opinionated
Age in days 8619
* Does not care of what others think
Age in hours 206850
* Emotional
Age in minutes 12411026
* Decisive
Age in seconds 744661537
* Strong clairvoyance
Age in Milli seconds 74466153703
* Loves to travel, the arts and literature
Age in weeks 60331
* Soft-spoken, loving and caring * Romantic
You born on Monday
* Touchy and easily jealous



* Spendthrift and easily influenced



* Easily lose confidence

Wow...I'm that old already...hehe, 74465491379 Milli seconds. Now, let see the character calculation:

* Loves to chat: Hmm..so so

* Loves those who loves him: It damn true...hehe

* Loves to takes things at the centre: Maybe..sometime

* Attractive and suave: Hehee...did I?

* Inner and physical beauty: (Wink)

* Does not lie or pretend: Oh..yeahh

* Sympathetic: Could not understand, I'm easily felt sympathetic to others
but also sometime a bold ignorance

* Treats friends importantly: Yes, but sometime I could be come very selfish

* Always making friends: Nay, I prefer to have little close friends then making lot
friends but can't keep it.

* Easily hurt but recovers easily: Nope, it not easy to hurt me, sometime I just not
feel hurt at all in a moment where most people will feel hurt.

* Bad tempered: Yes and No

* Selfish: Oh yeah, please help me.....

* Seldom helps unless asked: Not really

* Daydreamer: 100% right, a truly daydreamer

* Very opinionated: For some principle things yes, but I'm quite flexible too as
long as it not step out from what I believe on

* Does not care of what others think: Not really, occasionally yes (depends who
the others is)

* Emotional: Depend on situation, especially body metabolism

* Decisive: Yes, but also considerately

* Strong clairvoyance: Hehe...ohh yeah...I could see our earth destroyed if we
don't start doing something to save it

* Loves to travel, the arts and literature: Can't said more, travel and travel, isn't
live itself was a travel of time? Arts...hmm...I love arts, I do...but I'm never close
enough to an artist..hehe. Literature is my third world after reality, dream, and
before bite of bytes worlds.

* Soft-spoken, loving and caring: Soft-spoken...hmm..nay. Loving..oh ya,
I'm the lover of life. Caring...wanna be.

* Romantic: Sometime...hehe, especially in starry nights, cold rainy days,
on top mountain or beautiful valleys and beach.

* Touchy and easily jealous: Nope

* Spendthrift and easily influenced: Spendthrift..ughh hard to said, but yes I did,
someone please safe my money (if I have any...hehe)

* Easily lose confidence: Hmm...hmm...maybe

Friday, May 30, 2008

BENDERA SETENGAH TIANG


Ingat aku sewaktu kecil ketika duduk di bangku sekolah dasar. Semua sobat-sobatku selalu merasa bangga ketika dipilih untuk menjadi petugas upacara, baik sebagai pembawa bendera, pengibar bendera, pembaca Pancasila, ataupun drijen lagu Indonesia Raya. Maka berlatihlah mereka, dengan gerak jalan yang kompak dan langkah yang tegak.

Sedari aku juga tidak pernah terpilih menjadi petugas upacara. Maka, jadilah aku seterusnya sampai ke bangku SMA tidak pernah menjadi petugas upacara bendera. Coba di hitung, satu bulan ada empat Senin, dikurangi libur-libur, ditambah hari-hari nasional lainnya (17 Agustus, 20 Mei, dll), maka dalam satu tahun kira-kira ada 44 kali upacara bendera Senin. Dikali 12 tahun masa sekolahku dari SD sampai SMA, ada 528 kali upacara bendera Senin. Dan dari 528 kali itu, tidak pernah sekali pun aku menjadi petugas upacara, paling dekat menjadi petugas kesehatan yang berdiri di belakang barisan, bertugas menolong orang-orang yang pingsan (yang itu pun kulakukan karena dapat berdiri dengan santai terlindung pohon-pohon di belakang).
Terus kenapa itu menjadi penting. Karena aku begitu menghormati secarik kain berwarna dua itu. Serasa seorang Indonesia lah aku ketika memandang kibarannya. Suatu pengakuan yang begitu kudambakan. Dan untuk mata dan otak kecilku kala itu, berdiri dan menghormat ketika bendera itu dikibarkan adalah cara termudah menunjukkan keindonesiaanku.
Ketika SD dan SMP, petugas-petugas upacara dipilih oleh guru. Biasanya anak-anak yang dipilih adalah mereka yang berbadan tinggi. Hmm... Seharusnya aku juga terpilih karena badanku cukup tinggi waktu itu. Baru kemudian aku menyadari, aku berbeda karena kulitku lebih putih dan mataku lebih sipit dari kawan-kawanku yang lain. Mamak memasukkan aku ke SD dan SMP negeri ini karena letaknya yang paling dekat dengan rumah kontrakan kami, dan juga karena abangku bersekolah di sini. Sehingga abangku dapat mengawankan aku ke sekolah setiap harinya. Di sekolah ini, aku dipanggil ’amoy’.
Di kemudian hari dalam kunjungan singkat ke beberapa rumah teman mamakku, kisah-kisah tidak tuntas diceritakan kepadaku. Tentang si Amin temannya, yang pernah dimasukan ke dalam tahanan tanpa pengadilan ketika hingar-bingar 1965. Bagaimana dia kehilangan kuku-kukunya dan menemukan pandangan kosong sebagai pelarian penderitaan yang mungkin sampai kini tidak dipahaminya. Tentang sekolah kakekku yang harus ditutup karena bahasa Mandarin yang diajarkan dan digunakan dalam proses belajar mengajarnya. Tentang buku-buku kakek dan mamakku yang menjadi bubur setelah sekian tahun disembunyikan dalam kotak terkubur di bawah lumbung padi. Tentang ketakutan bapak dan mamak yang menjalar kepadaku kala aku masih teramat kecil untuk memahami kenapa sebuah bingkai yang berisi sapuan kuas tulisan Cina berisi filsafat hidup harus disembunyikan dengan teramat rapi di bawah kolong tempat tidur tertutup kardus-kardus. Tentang kisah pelarian bapakku dari tanah dan riam yang teramat akrab sedari masa kecilnya di Bengkayang sana.
Kemudian tentang bendera setengah tiang yang harus kami dikibarkan setiap 30 September sebagai tanda berkabung atas matinya para jenderal itu. Sebuah paradok lain yang mulai kupahami.
Tidak pernah kupermasalahkan semuanya itu, karena aku anak negeri ini. Semua itu mengajarkan kepadaku untuk berani bermimpi dan berbuat untuk Indonesia yang lebih baik. Saat ini, entah mengapa teramat ingin aku mengibarkan bendera merah putih itu, menaikannya hingga ke atas dan menurunkannya setengah tiang.
Dan jika ada yang lewat di depan rumahku bertanya kenapa aku menaikkan bendera setengah tiang, maka aku akan menjawab ”Karena aku berkabung untuk orang-orang miskin yang semakin miskin dan mungkin mati di setiap detik kibaran bendera itu, untuk setiap anak-anak yang hilang dalam pemiskinan yang terjadi di negeriku ini sejak saat ini”.

Tonny Wong dan Secangkir Kopi

Terduduk aku di pojok warung kopi itu, nanar mataku oleh kepulan asap rokok. Di depanku dua orang pengacara, salah satunya ku kenal, dia juga yang mengajakku ngopi malam ini. Secangkir kopi tanpa gula untukku. Dia dan temannya memesan kopi susu.

Malam semakin larut, tapi pojokan ini semakin ramai. Orang-orang silih berganti masuk dan keluar, berkelompok ataupun sendiri. Kepulan asap rokok semakin tebal.

”TW bebas kemudian ditangkap lagi…..hahahaa” seru temanku, masih berkemeja dia. Setelah mencerna sebentar, karena dingin malam sehabis hujan ditambah malam yang semakin larut memperlambat kerja otak kecilku, aku pun ikut tertawa panjang, what a laugh.

Yaa…si selebritis dalam dunia perkayuan itu akhirnya di vonis bebas dan kemudian ditangkap lagi untuk kasus lain.

“Sialan….,” jawab temannya temanku dengan senyum masam.

”Ya...jangan gitu dong, berarti kamu dipakai lagi bukan...hehe,” tanggap temanku.

”Berapa habisnya ko?” Pancingku.

Yang ditanya hanya tersenyum

Ahaa....dunia perkayuan ini. Teringat aku dengan suami kakak sepupuku, juga bergiat di dunia yang sama di Ketapang sana. Satu keluarga tiba-tiba menghilang sejak kunjungan dari Mabes Polri saat itu. Berlibur ke Singapura kata bibiku. Pernah dia mengatakan...yaa...pamanmu juga yang mengajari dia dulu.

Kurasa kedua pria berkemeja di depanku tidak mengetahui hubungan apa yang kupunyai dengan objek terakhir pembicaraan kami malam itu. Sekedar pembicaraan di warung kopi, dari Obama-Hillary sampai ke TW, bos kayu di Ketapang sana. Sekedar pertemuan yang tanpa dirancang, temanku mengirimkan pesan singkat ke HP ku ’Ngopi yok?’ Akhirnya ketemulah kami di pojok warung kopi itu, tidak lama kemudian temannya datang dengan rambut yang sedikit acak-acakan oleh lelah seharian, bergabung dengan kami. Aneh, mungkin yang terucap oleh orang-orang yang melihat kami, seorang gadis berbaju kaos dengan celana jeans yang sobek di lutut bersama dua pria berkemeja, khas pekerja kantoran di malam selarut ini. Tapi, siapa yang peduli, ini warung kopi, siapapun bisa datang dan pergi, apapun bisa diomongkan di sini.

Perkenalan singkat, cukup membuatku mengerti siapa dia. Dan bergulirlah cerita panjang, tentang hitam putih abu-abunya dunia peradilan, tentang permainan yang dimainkan di meja hijau PN Ketapang sana. Entah apa yang membuat dia begitu saja mempercayakan cerita itu di telingaku. Bukannya tidak tahu, cukuplah aku dapat menebak ada apa di balik cerita sakit-sakitan tersangka itu atau ketidakhadiran saksi yang tiba-tiba itu, atau perkelahian antara si bos satu dengan bos lainnya. Jadilah tikus yang sedang terjerat itu sasaran empuk. Satu melawan satu dengan mulut-mulut buaya bertoga hitam yang terbuka lebar berbaris rapi menunggu ”ayam” dari kedua pihak.

Sedangkan di sana, di hulu sungai Matan dan Pawan, tanah mamak dan nenekku, hutan-hutan semakin menghilang. Pagi semakin sepi dari teriakan kera dan orang utan, sungai semakin keruh, dan malam semakin mencekam.

Dalam perjalanan pulang, dengan kafein yang menari di syaraf-syaraf otakku, aku terdiam.

Friday, April 25, 2008

lari


Lari
Lari ikuti hati
Lari bersama berkas mentari
Lari mencari diri mengapai mimpi

-----------------------------------------------------------
Suatu ledakan setelah pencapaian....You know how it feel friends!!!

negeri di atas awan


Kesinilah teman, kan kuceritakan suatu dongeng
kisah satu negeri di atas awan
di mana kabut menguak pagi dan menirai malam
terkadang hari membawa awan serta, menyapa anak-anak bumi
yang hidup berhampar sawah
menghirup pekat pinus
menatap kokoh bumi yang menguak

Kesinilah teman, kubawa kau singgah di pondokku
atap lalang dengan jendela-jendela kecil tempat kau mengintip bintang takkala berbaring
menuai lelah dalam hangat mesra peluk erat kekasih
dan dinding dan lantai kayu, merongga angin lalu

Kesinilah teman, rasakan saat teduhku
tatap semua yang hanya menuju satu
cemara mengerucut langit
batang mengakar bumi
puja ke pemiliknya
sembah ke dasarnya
lahir bulir-bulir kuning
tuk esok

Kuingin membawa matamu menuju biruku
yang tentram, yang sejuk, yang damai, yang menyatu dengan hijaumu
Kesinilah teman, bersamaku
anak-anak bumi yang diberkati
negeri di atas awan

----------------------------
Ketika rinduku padamu menyeruak malamku, malino
Karet/Jumat, 30 November 2007

Tuesday, March 18, 2008

kesetiaan

"Seperti apa kamu akan mengambarkan kesetiaan?"
"Seperti buih ombak terhadap pasir pantai"




Waves and The Bank

My gift to you,
my beloved,
is the horizon itself.

I constantly search
to bring you crystals
and pearls.

You gift to me
is always the same,
a part of yourself:
a little sand

(Britain Poem Redbook)